Menghargai Waktu: Mengingat Kematian untuk Hidup yang Lebih Berarti

Banyak orang merasa takut saat mendengar kata “kematian”. Seolah-olah itu adalah akhir yang sangat menyeramkan. Padahal, dalam Islam, mengingat kematian justru diajarkan bukan untuk membuat kita takut atau malas, melainkan sebagai “alarm” agar kita lebih menghargai setiap detik waktu yang masih kita miliki.

Waktu adalah satu-satunya modal yang tidak bisa kita beli atau putar kembali. Ketika kita sadar bahwa waktu kita terbatas, kita akan lebih selektif lagi dalam memilih dan memilah apa yang ingin kita kerjakan.

Waktu: Nikmat yang Sering Kita Lupakan

Pernahkah Anda merasa seharian sangat sibuk, tapi saat malam hari tiba, Anda bingung apa saja yang sudah Anda hasilkan? Seringkali kita terjebak dalam hal-hal yang tidak bermanfaat karena kita merasa hidup masih lama.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mengingatkan kita:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Artinya, waktu luang seringkali terbuang sia-sia tanpa kita sadari. Padahal, setiap detik yang telah kita lewati adalah kesempatan untuk menambah tabungan pahala kitab untuk bekal di akhirat.

Mengingat Kematian Sebagai Motivasi Hidup

Mengingat kematian adalah cara terbaik untuk “mengoreksi” prioritas hidup kita. Orang yang ingat bahwa suatu saat akan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala, ia akan:

Lebih Cepat Memaafkan: Karena ia tahu dendam hanya membuang-buang waktu.

Lebih Rajin Berbagi: Karena ia tahu harta ia miliki tidak akan dibawa mati, kecuali sedekahnya.

Lebih Fokus pada Ibadah: Karena ia tidak tahu kapan kesempatan itu berakhir.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu…” (QS. Ali Imran: 185).

Apa Warisan Terbaik Kita?

Kita hidup di dunia bukan untuk sekadar “numpang lewat“. Kita diperintahkan untuk meninggalkan jejak kebaikan. Kematian adalah batas waktu pengerjaan ujian di dunia. Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk perjalanan setelah kematian itu dengan amal-amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir meskipun ia sudah tidak ada.

Tips Menghargai Waktu Setiap Hari:

Evaluasi Diri (Muhasabah): Sebelum tidur, coba tanya pada diri sendiri, “Apa saja kebaikan yang sudah saya lakukan hari ini?” Atau “Apa dosa/kesalahan yang telah saya lakukan pada hari ini?”

Segerakan Kebaikan: Jangan menunda-nunda membantu orang atau meminta maaf. Lakukanlah selagi ada kesempatan.

Kurangi “Scroll” yang Sia-sia: Kurangi penggunaan gadget untuk hal yang tidak menambah ilmu atau manfaat bagi jiwa Anda.

Berdoa Meminta Umur yang Berkah: Mintalah kepada Allah agar setiap sisa umur yang kita miliki diisi dengan hal-hal yang Dia ridhai.

Kesimpulan

Mengingat mati bukan berarti kita berhenti beraktivitas atau sedih terus-menerus. Justru, ini adalah pengingat agar kita hidup dengan penuh semangat dan penuh makna. Mari kita jadikan setiap hari sebagai kesempatan terakhir kita untuk berbuat baik, sehingga saat waktu kita tiba nanti, kita meninggalkannya dengan senyuman dan amal yang melimpah tanpa ada beban berat.

Jadikan setiap detik yang kita miliki menjadi lebih berharga!

Comments

comments