Hakikat Isra’ Mi’raj: Menemukan Kembali Makna Sujud di Balik Hiruk Pikuk Dunia

Setiap tahun, kita bisa selalu memetik Hikmah peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai sebuah mukjizat perjalanan agung Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Namun, di balik kemegahan kisah perjalanan menembus langit tersebut, ada satu inti sari yang seringkali kita lupakan: Perintah Shalat.

Peristiwa ini bukan sekadar sejarah, melainkan teguran halus bagi kita yang sering kali kehilangan arah di tengah hiruk pikuk dunia.

Ibadah yang Dijemput Langsung ke Langit

Ada satu keistimewaan besar dalam syariat shalat. Jika zakat, puasa, dan haji cukup diturunkan melalui wahyu lewat Malaikat Jibril ke bumi, shalat berbeda. Allah Subhanahu wata’ala mengundang Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam secara langsung untuk menerima perintah ini.Hal ini menunjukkan bahwa shalat bukanlah sekadar rutinitas agama biasa. Shalat adalah sebuah kewajiban mutlak yang sangat mendesak bagi keselamatan jiwa manusia.

Karena kedudukannya yang begitu tinggi di sisi Allah, mengabaikannya bukanlah perkara sepele. Allah Subhanahu wata’ala memberikan peringatan keras bagi mereka yang melalaikannya Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)

Shalat: Waktu Istirahat, Bukan Beban

Sering kali kita memandang shalat sebagai beban di tengah kesibukan kerja. Kita merasa sepuluh menit di atas sajadah akan menghambat produktivitas kita. Padahal, dunia ini tidak akan pernah ada habisnya untuk dikejar.

Lihatlah bagaimana kita sekarang; kita mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk urusan duniawi, namun kening kita terasa sangat berat untuk menyentuh sajadah. Kita ruku’ dan sujud dengan terburu-buru, seolah ingin segera lari kembali kepada urusan dunia yang sebenarnya bisa menunggu.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam memberikan peringatan keras terhadap mereka yang shalat namun tidak tenang (tumakninah):

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ؟ قَالَ: لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا

Seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri dari shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana ia mencuri dari shalatnya?” Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad)

Mengapa Hidup Terasa Berantakan?

Mungkin kita pernah bertanya-tanya, mengapa hati sering merasa gelisah, rezeki terasa sempit, atau keluarga terasa tidak harmonis? Cobalah periksa hubungan kita dengan Allah. Shalat adalah cermin dari seluruh amalan kita. Jika shalat kita berantakan, maka aspek kehidupan lainnya pun akan cenderung tidak teratur.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

Amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.” (HR. At-Thabrani)

Menunda-nunda shalat demi urusan dunia adalah sebuah kerugian besar. Sebab, bagaimana mungkin kita mengharapkan keberkahan dari Dzat yang kita abaikan panggilan-Nya?

Momentum Menemukan Kembali Sujud Kita

Isra’ Mi’raj mengajak kita untuk “ber-mi’raj” secara spiritual. Saat kita takbiratul ihram, kita sebenarnya sedang meninggalkan dunia di belakang punggung kita. Kita sedang menghadap penguasa semesta alam yang memegang kunci segala solusi atas masalah kita.

Gunakanlah shalat sebagai sarana untuk meminta pertolongan, sebagaimana perintah Allah:

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Penutup

Mari jadikan momentum Isra’ Mi’raj tahun ini sebagai titik balik. Jangan tunggu sampai kita “dishalatkan” baru kita sadar pentingnya shalat. Jangan sampai kening kita menyentuh tanah dalam keadaan tak bernyawa baru kita menyesal tidak pernah bersujud dengan sungguh-sungguh.

Dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Puncak kebahagiaan seorang hamba bukanlah saat ia berhasil meraih jabatan atau harta, melainkan saat ia mampu menemukan kedamaian dalam sujudnya yang panjang di hadapan Sang Pencipta.

Comments

comments