Dalam kehidupan rumah tangga yang sibuk, seringkali kita lupa bahwa orang yang paling berhak menerima keramahan kita adalah keluarga kita sendiri. Terkadang di dalam kehidupan ini kita bisa sangat sopan sekali kepada rekan kerja atau teman, namun justru bicara ketus/kasar kepada pasangan atau anak di rumah.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa kualitas iman seseorang tercermin dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya.
Tolok Ukur Kebaikan Seorang Muslim
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam memberikan standar yang sangat tinggi mengenai hubungan didalam keluarga. Beliau bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).
Hadits ini mengingatkan kita bahwa kesuksesan sejati bukan dilihat dari seberapa hebat kita di luar rumah, melainkan seberapa lembut dan bermanfaatnya kita bagi orang-orang yang ada di dalam rumah kita.
Berbicara dengan Kata-Kata yang Menyejukkan
Komunikasi adalah kunci. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk selalu mengucapkan Qaulan Karima (perkataan yang mulia) dan Qaulan Layyina (perkataan yang lemah lembut). Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah berkata kasar, apalagi membentak istri atau anak-anak beliau.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (santun)’...” (QS. Al-Isra’: 53).
Satu pujian kecil untuk masakan istri, atau satu ucapan terima kasih atas kerja keras suami, bisa menjadi “bahan bakar” kebahagiaan yang luar biasa dalam rumah tangga.
Membantu Pekerjaan Rumah Tangga
Sikap santun Nabi tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga tindakan nyata. Beliau tidak segan membantu urusan di dalam rumah tangga. Ketika Aisyah Radhiyallahu Anha ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi shalallahu alaihi wasallam di rumah, beliau menjawab:
كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ
“Beliau (Nabi) biasa membantu pekerjaan keluarganya.” (HR. Bukhari).
Ini adalah bentuk empati. Komunikasi yang baik terjadi ketika satu sama lain saling meringankan beban yang ada, bukan justru saling menuntut.
Tips Praktis Komunikasi ala Nabi:
Gunakan Panggilan Sayang: Nabi memanggil Aisyah dengan sebutan “Ya Humaira” (yang pipinya kemerah-merahan). Gunakan panggilan yang membuat anggota keluarga merasa dicintai.
Menjadi Pendengar yang Baik: Saat anak atau pasangan bercerita, berikan perhatian penuh. Hindari bermain HP saat sedang mengobrol.
Selesaikan segala permasalahan dengan Kepala Dingin: Jika ada selisih paham antara anggota keluarga, jangan biarkan emosi mengambil alih diri kita. Ingatlah kebaikan-kebaikan mereka sebelum Anda menegur kesalahannya.
Kesimpulan
Rumah tangga yang islami bukanlah rumah tangga yang tanpa masalah, melainkan rumah tangga yang setiap masalahnya diselesaikan dengan adab dan lisan yang santun. Dengan meneladani Rasulullah, kita menjadikan rumah kita sebagai Baiti Jannati (Rumahku Surgaku). Aamiin ya rabbal alamin……….