
Bagi kebanyakan orang, makan mungkin hanya dianggap sebagai aktivitas rutin untuk menghilangkan rasa lapar. Namun, tahukah Anda bahwa dalam Islam, aktivitas makan bisa berubah menjadi ladang pahala yang begitu besar? Hanya dengan sedikit perubahan pada adab dan niat kita, setiap suapan yang masuk ke mulut kita bisa mendatangkan keberkahan.
Islam mengajarkan bahwa makanan bukan hanya soal rasa di lidah, tapi juga soal rasa syukur kepada Sang Pemberi Rezeki.
Memulai dengan Nama Allah
Langkah pertama untuk menghadirkan keberkahan di meja makan adalah dengan menyebut nama Allah. Dengan membaca “Bismillah”, kita sedang mengakui bahwa makanan yang ada di depan kita adalah pemberian-Nya, dan kita memohon agar makanan tersebut menjadi energi untuk kita berbuat kebaikan.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam memberikan bimbingan yang sangat jelas dalam sebuah hadits shahih:
يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak muda, sebutlah nama Allah (bacalah Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bayangkan, hanya dengan satu kata sederhana, aktivitas makan kita sudah bernilai ibadah di mata Allah.
Gunakan Tangan Kanan
Menggunakan tangan kanan saat makan bukan sekadar tradisi atau sopan santun budaya, melainkan bentuk ketaatan kita kepada sunnah Nabi. Hal ini juga menjadi identitas seorang Muslim yang rapi dan teratur dalam beraktivitas.
Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam mengingatkan kita untuk tidak meniru kebiasaan yang kurang baik:
لَا تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ
“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, karena setan itu makan dengan tangan kiri.” (HR. Muslim).
Dengan memilih tangan kanan ketika makan, maka kita sedang menjaga diri dari pengaruh negatif dan mengikuti jalan yang penuh berkah.
Syukuri Apapun Menunya
Salah satu kunci kebahagiaan di meja makan adalah tidak mencela makanan. Sebagaimana yang telah dicontohkan nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Jika kita suka, kita makan; jika kita tidak suka, kita cukup meninggalkannya tanpa harus mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang yang memasaknya atau seolah-olah menghina rezeki yang telah Allah berikan.
Bersyukur atas makanan yang ada, meskipun sederhana, akan membuat hati lebih tenang dan merasa cukup (qana’ah).
Tips Praktis Menjemput Berkah saat Makan:
Cuci Tangan Terlebih Dahulu: Selain menjaga kebersihan (kesehatan), ini juga bagian dari adab yang baik.
Duduk dengan Sopan: Hindari makan sambil berdiri atau berjalan agar pencernaan lebih baik dan lebih sesuai dengan adab.
Habiskan Makanan: Jangan biarkan ada sisa yang terbuang (mubazir), karena kita tidak tahu di butiran nasi mana letak keberkahan itu berada.
Akhiri dengan Alhamdulillah: Setelah kenyang, ucapkan syukur sebagai penutup yang indah agar nikmatnya terus ditambah oleh Allah. Sebagaimana doa setelah makan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan merezekikannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku.“(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Kesimpulan
Meja makan adalah tempat di mana syukur dipraktikkan secara nyata. Dengan mengikuti adab yang diajarkan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam—membaca Bismillah, memakai tangan kanan, dan tidak berlebihan—kita tidak hanya mendapatkan kenyang di perut, tapi juga ketenangan di jiwa dan pahala yang terus mengalir.
Mari kita mulai setiap suapan kita ketika makan dengan doa dan syukur!